No Pain No Gain


Belakangan ini, ada sebuah pelajaran kemandirian yang dianjurkan untuk seorang bayi selepasa dari kandungan. Program yang dikenal dengan nama Inisiasi Menyusui Dini (IMD) ini sepertinya sederhana. Sang bayi yang baru lahir, langsung diletakan di sekitar dada ibunya. Dan, dengan instingnya, sang bayi langsung berusaha mencari “sumber makanan” yakni Air Susu Ibu (ASI) dengan merambat sekuat tenaganya. Sosok yang baru terlahir ke bumi dengan kondisi yang masih tidak berdaya, namun sudah “diajarkan” untuk mencari sumber kehidupannya sendiri. Konon, ASI pertama inilah dikenal dengan nama kolostrum adalah zat yang paling ampuh multimanfaat untuk pertumbuhan bayi. Bukan hanya itu kemampuannya mencari ASI itulah yang akan menjadikan bayi tumbuh sebagai pribadi yang kuat dan sehat. “Perjuangan” bayi ini sejalan dengan ungkapan NO PAIN NO GAIN.

No Pain No Gain yang artinya tidak ada kesuksesan yang diperoleh tanpa rasa sakit, kata-kata ini sudah kita alami semenjak menjadi bayi hingga dewasa bahkan sampai ke liang lahat. Perjalanan hidup yang dilalui akan selalu ada hambatan dan rintangan yang dilalui, mulai dari seorang bayi harus belajar merangkak, kemudian jalan dan selanjutnya, sehingga menjalani serangkaian episode kehidupan yang memang tak lepas dari perjuangan. Oleh karena itu tanpa perjuangan mati-matian kita tak akan mendapat keberkahan. Kata No Pain No Gain terkenal ketika seorang pelatih kebugaran di Amerika dalam satu video panduan pembentukan tubuhnya banyak mengakatan No Pain No Gain dan Feel The Burn.  Dua kalimat itu adalah anjuran untuk membentuk yang diidamkan, butuh “perjuangan” butuh “dibakar”. Kenyataanya untuk mencapai kesusksesan dalam mendapatkan tubuh yang ideal perlu Pain. Bahkan banyak contoh untuk mendaptkan Gain perlu Pain terlebih dahulu.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Daniel Levitin, seorang ahli saraf menemukan bahwa untuk dapat memperoleh keahlian dunia dalam bidang apapun, sesorang perlu berlatih setidaknya selama sepuluh ribu jam. Menurut penuturnya menjelaskan bahwa dalam berbagai penelitian terhadap para ahli dibidangnya seperti pemain sepak bola, pemain bola basket, penulis novel, penjahat kelas kakap, dll angka 10.000 jam selalu muncul berulang kali. Tidak ditemukan sorang ahli dengan waktu latihan yang sedikit, sepertinya otak membutuhkan waktu sepanjang itu untuk menyerap semua yang dibutuhkan untuk menjadi seseorang yang ahli dibidangnnya.

Sederhananya efek 10.000 jam bisa digambarkan seperti ketika anda belajar atau berlatih terus menerus selama 5 jam sehari, 5 hari seminggu dan 40 minggu setahun, stidaknya dalam 10 tahun tanpa henti pada saat itulah 10,000 jam terjadi. Artinya selama ini mimpi atau tujuan hidup tertingginya digenggam dengan menjalani semua masalah dalam hidupnya, menelan semua kepahitan, kesakitan, dan perasaan negatif lainnya. Kondisi inilah yang menjadikan seseorang kuat dan akhirnya mempunyai tekad untuk lebih sukses.
Seiring kita mendengar atau bahkan belajar ketika dimasa sekolah menengah pertama dimana pada mata pelajaran Fisika kita diajarkan oleh guru kita tentang lampu pijar, dan yakin pasti bahwa yang akan keluar namanya dalam sesion itu adalah sosok penemu bohlam lampu yakni Thomas Alva Edison (1847-1931), tahukah kita berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menemukan bholam lampu tersebut? Mungkin sebagian dari kita tidak tahu, bahwa waktu yang dibutuhkan adalah sekitar 20 tahun dan selama periode tersebut Thomas Alva Edison mengalami kegagalan sebanyak 50.000 kali percobaannya. Bahkan pernah ditanya oleh beberapa orang; Mr Edison, anda telah gagal sebanyal 50.000 kali terus apa yang anda harapkan dan apa yang membuat anda yakin bisa berhasil.? Dengan spontan Edison menjawab, Berhasil bukan hanya berhasil, saya telah mendaptkan banyak hasil. Kini saya tahu 50.000 cara yang tidak berfungsi. Jawaban yang sangat mengagumkan, dimana sebuah kegagalan dianggap sebagi suatu keberhasilan sekali lagi No Pain No Gain.

Masa sekarang banyak yang berhasil tapi harus melewati berbagai penderitaan, sebut saja Mike Tyson (Juara Dunia Tinju sejak Muda, saat usia 20 tahun, 5 bulan), Bill Gates (orang terkaya no.1 di Dunia Pemilik Perusahaan Microsoft), atau pernah mendengar nama Houtman Zainal Arifin.? (Beliau adalah mantan pedagang asongan, anak jalanan, office boy (OB) yang dengan tekad kuatnya, sekarang menjadi orang nomor satu di Citibank Indonesia), dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan. Dari sekian banyak orang sukses akan diulas cerita singkat tentang sosok Roman Abramovich, bagi pencinta sepak bola sosok ini tidak asing lagi, Roman adalah pemilik Klub Sepak Bola di Inggris yakni Chelsea. Roman harus kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ibunya meninggal ketika masih umru 1 tahun, kemudian disusul oleh ayahnya ketika masih umur 3 tahun, sehingga dibesarkan oleh pamannya, akhirnya disekolahkan sampai perguruan tinggi tapi tidak tamat. Ikut wajib militer ketika berumur 20 tahun, disinilah iya mengenal dunia bisnis dengan cara jual-beli minyak hasil curian, hasil dari penjualan itu dijadikan modal. Ketika keluar dari kamp militer, bekerja menjadi mekanik disuatu pabrik di Moskow dan akhirnya menikah, kado pernikahaannya dijadikan modal untuk berbisnis kembali dengan menjual barang-barang selundupan, sehingga modalnya mengalami peningkatan. Setelah digulirkan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachez, saat itu mulai berbisnis secara legal dengan mendirikan pabrik mainan anak-anak, sampai pembuatan suku cadang mobil. Akhirnya bisnisnya menyentuh transaksi minyak yang sekarang menjadikan Roman salah satu orang terkaya di Rusia. Sukses yang diraih laki-laki kelahiran 24 Oktober 1966 ini memang berkat kerja kerasnya. Dalam satu wawancara ia menyebutkan apa yang menjadikan cepat berkembang di usia yang relatif muda. “Saya tak memilki impian seperti Napoleon, Saya hanya pekerja keras dan pragmatis,” ujarnya. Akhirnya tidak ada yang mudah untuk meraih sukses No Pain No Gain.

Dalam dunia pendidikan, terlihat adanya perbedaan antara siswa yang berjuang, gigih dan tidak kenal lelah untuk belajar dengan siswa yang menggunakan cara curang, manja dan malas. Mungkin ada perbedaan dalam nilai dan kelulusan dimana siswa yang curang mendapatkan hasil yang bagus, tapi bagi para siswa yang gigih mereka mendapatkan pelajaran dengan cara mencoba dan mencoba lagi, akhirnya menimbulkaan kembagaan bagi diri mereka, dimana mereka terus berjuang untuk mendaptkan hasil yang lebih baik. No Pain No Gain.

Dari uraian di atas terlihat bahwa untuk mencapai kesusksesan memang diperlukan usaha yang keras, tekad yang kuat dan harus bersahabat dengan rasa sakit. Bahwa tidak semua yang manis itu baik adanya, contohnya gula yang biasanya manis dan dikonsumsi setiap hari, bila tidak di kontrol akhirnya akan menyebabkan penderitaan, sebaliknya ada yang terasa pahit seperti obat yang dikonsumsi untuk penyembuhan berguna adanya. Akhirnya mari kita bersahabat dengan rasa sakit, sehingga mimpi yang selama ini menjadi idaman dapat diraih dan akhirnya bisa menjadikan kita bahagia.

Salam Sukses.

Note: Tulisan ini disadur dari Majalah Motivasi LUAR BIASA Edisi September 2011 “NO PAIN NO GAIN” Pendiri: Bapak Andrie Wongso (Motivator).

Semoga bermanfaat bagi kita semua, untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik.
sumber foto: https://encrypted-tbn2.gstatic.com

Komentar